Penyebab Kronologi Penyerangan Brimob Ke Asrama Atlet

Asrama atlet kompleks stadion sempaja Samarinda Kaltim diserang puluhan anggota brimob sabtu dinihari 21/3/15. Penyebab penyerangan diduga buntut dari perkelahian antara anggota brimob dengan atlit penghuni asrama.

Kejadian diduga karena salah paham itu terjadi pukul 02.00, setelah ribut adu mulut di luar, lantaran atlet siswa SKOI ditegur tanpa alasan jelas. Pada saat kejadian tersebut sempat terjadi kontak fisik antara siswa SKOI dan diduga anggota Brimob.

Serangan ke asrama Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (21/3) dinihari, yang diduga dilakukan puluhan Anggota Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Polda Kaltim, mendapat kecaman.

Anggota Komisi III DPR, John Kenedy Azis, saat dimintai tanggapan atas kejadian itu menyatakan institusi kepolisian harus mengusut tuntas insiden penyerangan brimob itu.

Penyebab Kronologi Penyerangan Brimob Ke Asrama Atlet

Kronologi Penyerangan Brimob Di Kompleks Asrama SKOI Samarinda


Muhammad Rizki Al Banjari ketida tertidur lelap mendadak berakhir ketika tiga pria berbadan besar sudah berdiri di samping ranjangnya. Teriakan nyaring para pria asing di kamar lantai empat Asrama Atlet II, Kompleks Stadion Sempaja, Samarinda, Kaltim, membuat atlet judo berusia 17 tahun itu kaget setengah mati.

Sabtu (21/3) sekitar pukul 01.30 Wita, para pria itu hendak memukul Rizki yang belum sadar benar dari tidur. Beruntung sebelum tamu tak diundang itu menghajar Rizki, Kepala Asrama Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim Serka Arifin, tiba-tiba datang. Arifin segera mencegah anak didiknya dipukuli.

Ternyata bukan tiga lelaki itu saja yang berada di Asrama Atlet, puluhan orang yang diduga oknum anggota Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Polda Kaltim telah menyebar ke seisi asrama berlantai empat itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, beberapa menit sebelumnya, ada lima lelaki berseragam polisi datang di depan asrama. Mereka ternyata ditemani puluhan pria lainnya yang berpakaian bebas. Mereka turun dari tiga mobil dan beberapa sepeda motor sebelum menebar teror seperti informasi yang dilansir jpnn.

Memang benar ada kejadian salah paham saja. Antara siswa SKOI dan diduga anggota Brimob. Itu sudah ditangani aparat kepolisian. Tadi, kepala asrama Pak Arifin dan Ashar, siswa SMP SKOI Gulat sudah dimintai keterangan di Polres Samarinda," kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kaltim, Fachruddin Djapri.

Usai peristiwa pengrusakan di komplek Stadion Madya Sempaja, aparat Polda Kaltim dan Polresta Samarinda melihat langsung kondisi pengrusakan akibat penyerangan tadi malam.

“Sangat mencekam,” tuturnya, mengingat-ngingat kejadian itu. Di lantai dua, seorang atlet perempuan dari cabang angkat besi, Nani, diancam dengan senjata tajam di wajah. Perempuan bertubuh besar dan berambut pendek seperti laki-laki itu tak bisa berbuat banyak.

“Dia akhirnya membukakan pintu,” kata Ibnu yang menerima pengakuan Nani, beberapa saat setelah kejadian. Adapun satpam yang melihat monitor CCTV di pintu utama, turut dilumpuhkan ketika naik ke lantai dua.

Rombongan tak diundang itu pun leluasa menggedor setiap pintu kamar. Dimulai dari blok atlet perempuan di lantai dua dan tiga, para penyerbu disebut-sebut mencari ZA dan AD. Setengah jam sebelumnya, dua siswa SKOI itu terlibat cekcok di luar asrama.

Sial bagi Paulus Renaldy (17) dan Alvion (12) alias Piyo. Di kamar 411 atau tepat di sebelah kamar Ibnu, kedua remaja berbadan besar itu dikira ZA dan AD.

Ketika pintu kamar didobrak sekitar 10 orang, Renaldy dan Piyo sekuat tenaga menahan dari dalam. Tapi, dorongan atlet karate dan panahan itu tak setimpal. Pintu terbuka, Piyo ditarik ke lorong sedangkan Renaldy didorong ke dalam kamar.

Renaldy dikeroyok di depan wastafel. Dia diinjak-injak, dipukuli dengan tangan, dan dihantam helm. “Banyak sekali yang mengeroyok saya,” ucap Renaldy ketika ditemui di kamar Cempaka 01 Pria, RSUD AW Sjahranie, Samarinda. Atlet karate kelas tanding 60 kilogram itu menerima 21 jahitan di kepala.

Kronologi Penyerangan Brimob Di Kompleks Asrama SKOI Samarinda

Rekan sekamarnya, Piyo, atlet panahan yang masih duduk di kelas enam SD, dipukuli di luar kamar. Dia menderita memar di beberapa bagian tubuh. Piyo dibolehkan pulang dan hanya mendapatkan rawat jalan

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Fajar Setiawan turut berjanji mengusut tuntas kasus ini. Mantan kapuslabfor Bareskrim Mabes Polri itu telah membentuk tim beranggotakan inspektorat pengawas daerah, bidang profesi pengamanan, dan direktorat reserse kriminal umum, untuk menyelidiki.

"Tim sudah berangkat ke Samarinda. Nanti, tim dibantu Polresta Samarinda. Pak Kapolda juga menyampaikan maaf atas insiden tersebut," kata Fajar. Dia mengatakan, pelaku akan menghadapi peradilan umum selain tindakan tegas dari internal Polda.

Di luar itu, Fajar meminta masyarakat menjaga diri dan tidak terbawa emosi atau bahkan terprovokasi. "Proses hukum biar berjalan. Mari hormati. Kami tidak pandang bulu. Siapa pun bersalah, pasti diproses," tegasnya seraya menambahkan, tim Polda masih terus menghimpun keterangan saksi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel