Kenaikan Harga BBM Bersubsidi Bulan November 2014

Kepastian kenaikan harga BBM bersubsidi Pemerintahan presiden jokowi adalah pada bulan November tahun 2014 ini masih terus diperbincangkan dan dibahas oleh kementrian terkait di dan termasuk di dalam salah satu program Kabinet Kerja Jokowi di tahun 2014-2015 ini.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menyatakan, saat ini pemerintah tengah berfokus mensosialisasikan rencana pengalihan subsidi serta persiapan kompensasi kenaikan harga BBM oleh Pemerintah. Baca lebih lanjut dalam informasi berikut ini : Kompensasi Kenaikan Harga BBM Untuk Masyarakat.

Besaran kenaikan harga bbm bensin dan solar bersubsidi berada pada kisaran Rp 1.000 perliter, Rp 1.500 perliter, dan Rp 3.000 perliter. Dan tidak lebih dari harga 3 ribu per liternya demikian opsi kenaikan harga yang diajukan dan direncanakan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Bahwa Jokowi-JK akan menaikan harga BBM bersubsidi pada bulan November 2014 sebesar 46,1 persen, atau dari Rp 6.500 menjadi Rp 9.500 per liter guna menghemat anggaran tahun ini sebesar Rp 20 triliun.

Kenaikan Harga BBM Bersubsidi Bulan November 2014

Harga BBM Subsidi Naik Rp 2000 Sampai 3000 Per Liter


Dari berbagai kajian sudah disebutkan, dengan kenaikan Rp 3.000 per liter, maka penghematan didapat sekitar Rp 150 triliun per tahun. Dari anggaran penghematan tersebut bisa dialihkan untuk sektor lain yang benar-benar produktif mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepannya.

Pengamat energi Ibrahim Hasyim menyatakan, saat ini memang momen yang tepat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebab, harga BBM secara keekonomian sedang turun seiring turunnya harga minyak mentah Indonesia (ICP). Seperti dikutip dari jpnn.com

Buktinya, rata-rata ICP Oktober diumumkan turun menjadi USD 83,72 per barel. Angka itu terjun bebas dengan selisih USD 11,25 jika dibandingkan dengan rata-rata September senilai USD 94,97 per barel.

"Secara hukum ekonomi, memang harusnya begitu. Dengan begitu, selisih harga antara BBM bersubsidi dan BBM nonsubsidi bisa lebih kecil. Kalau dinaikkan, akan terjadi disparitas yang tipis sehingga masyarakat menengah ke atas pun berpindah mengonsumsi BBM nonsubsidi," jelasnya.

Menurut dia, selisih harga Rp 2 ribu per liter diakui sudah cukup efektif untuk menjaga kuota BBM agar tidak jebol. Setidaknya, hal tersebut bakal membuat penyelundup BBM bersubsidi berpikir dua kali.

Pemerintah dikabarkan bakal segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat. Menanggapi kabar tersebut, VP Corporate Communication PT Pertamina, Ali Mundakir mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga pasokan BBM sampai akhir tahun 2014, agar aman terkendali.

"Pertamina terus menjaga stok BBM dalam kondisi aman," ujar Ali di Jakarta, Rabu (5/11) JPNN.COM.

Karenanya ia berharap masyarakat tidak menyerbu pengisian BBM, dan membeli sesuai dengan kebutuhan ataupun sengaja melakukan penimbunan. "Pertamina menjamin stok BBM sangat aman dan masyarakat diharapkan membeli BBM sesuai dengan kebutuhan normal saja," pintanya.

Ali juga menambahkan, realisasi penyaluran BBM bersubsidi hingga akhir Oktober kemarin, mencapai 39,07 juta kiloliter atau 86,1 persen terhadap alokasi kuota BBM bersubsidi yang disalurkan Pertamina tahun ini

Penyebab Alasan Pemerintah Menaikkan Harga BBM Bersubsidi 2014-2015


Ada beberapa alasan pemerintah menaikkan harga bensin premium dan solar tahun 2014-2015 ini.

Harga BBM Subsidi Naik Rp 2000 Sampai 3000 Per Liter

Berikut beberapa alasan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi seperti yang diungkapkan oleh Andi Widjajanto selaku Sekretaris Kabinet seperti dikutip dilansir dari jpnn.com.

Soal alasan rencana kenaikan harga BBM tersebut, Andi menyebutkan ada sekitar lima alasan mengapa BBM harus dinaikkan harganya yaitu antara lain oleh karena :
  1. Harga BBM di Indonesia terlalu murah dibandingkan dengan negara lain. Ini membuat potensi BBM diselundupkan menjadi tinggi.
  2. Kuota BBM bersubsidi yang ditetapkan DPR bersama pemerintah tiap tahunnya selalu terlampaui. Hal ini menguatkan dugaan jebolnya kuota BBM karena adanya penyelundupan.
  3. Sejak awal tahun 2000, Indonesia telah beralih status dari eksportir BBM menjadi importer BBM dan subsidi BBM selama ini tidak sesuai dengan ketentuan Undang-undang 30/2007 tentang energi.
  4. BBM akan naik harganya karena seperlima APBN Indonesia disedot untuk subsidi energi. Padahal, subsidi ini sifatnya sangat konsumtif.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel